Dalam Mendung Ia Bergumam

maxresdefault
Foto disadur dari https://goo.gl/images/CjjXeV

Cerpen ini dibuat sebagai proyek kelas dalam rangka memenuhi tugas kelas Pengantar Studi Perdamaian.


Ia telah berdiri barang setengah jam, selalu di tempat yang sama, selalu mematung, mengadah, mengharap. Lelaki berwajah mendung adalah julukan orang-orang baginya. Penampilannya acak-acakan, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Orang yang tak familiar dengan kehadirannya pasti menganggap ia sebagai gelandangan, dan akan cenderung iba. Setidaknya itulah yang banyak orang rasakan ketika pertama kali melihatnya di tempat tersebut, namun seiring waktu kehadirannya menjadi suatu hal yang normal, dan orang cenderung melupakan hal yang normal.

“Sinta, ini aku,” lelaki itu bergumam pelan, bibirnya hampir tak bergerak.

“Mereka tidak pernah mengerti Sinta, dan sejatinya tidak akan pernah mengerti,” ujarnya ke arah kekosongan yang ia coba untuk bentuk menjadi keadaan.

“Setelah melakukan hal ini padamu, coba tebak siapa korban mereka berikutnya? Tentu aku, dan mereka yang bernasib sama denganku, mereka yang kehilangan orang orang macam kau Sinta.”

Ia menghela napas, ingin ia kosongkan sama sekali relung paru-parunya. Pikirannya berputar-putar mencoba untuk menggali memori yang masih tertanam dalam ingatannya. Usahanya tidak berhasil.

“Ini membunuhku perlahan Sinta, ketika waktu berkomplot dengan mereka yang membuatmu begini, memaksaku untuk kehilangan jejakmu di tempat terakhir aku dapat melihatmu, menyentuhmu, mencumbumu.”

“Kau selalu mengingatkanku, bahwa kau bergantung padaku, dan begitu pula aku sebaliknya. Namun dalam kondisi seperti ini, sejatinya hanya aku yang bergantung padamu. Kau sudah bebas, entah kau nikmati atau tidak. Sedangkan aku masih terkungkung dalam penjara kepahitan di sini.”

Ia berhenti sejenak, ia awasi sekelilingnya barangkali ada petugas yang hendak mengusirnya seperti dulu-dulu. Ketakutannya tak mendasar sebenarnya, ketika orang-orang di sekitarnya bahkan tidak menyadari keberadaannya.

“Lupakan dan maafkan,” ujarnya sambil tersenyum sinis.

“Itulah yang mereka teriakkan sekarang Sinta! Kalimat itu mereka gumpalkan sedemikan rupa dan mereka paksakannya masuk ke pikiranku! Dan apa yang mereka harapkan dari itu? Apakah aku serta merta akan mengunyahnya dan menelannya pelan pelan bak bayi yang disuapi? Tentulah kau tahu aku Sinta. Kepalaku dan kepalamu sekeras batu.”

Mendung akhirnya pecah, butiran-butiran air berjatuhan dari gumpalan kelabu di langit. Ia menangis.

“Kau tahu bagaimana awalnya mereka menanggapiku? Mereka tolak mentah-mentah ceritaku Sinta. Cerita tentang aku, kau, tempat ini, bahkan cerita tentang mereka sendiri! Buat mereka, aku hanyalah gelandangan yang meracau, tak jelas isi kepalanya, tak perlu dihiraukan.”

“Beruntung bagiku kala itu kau masih hidup dan jelas di ingatanku Sinta,” ia acak-acak rambutnya sendiri, kesal.

“Kebodohan mudah terulang Sinta. Biarpun mereka telah berganti rupa dan nama, pikir mereka tetap sama Sinta, tetap bodoh sebodoh-bodohnya. Apabila kuteriakkan namamu sepuluh kali ke mereka Sinta, mungkin akan mereka tenggelamkan dengan retorika bodohnya duapuluh kali. Memang susah Sinta, tapi selama ada kau, semua mudah bagiku. Selama ada kau Sinta.”

Hujan telah reda, namun masih menyisakan gumpalan kelabu di langit, barangkali memang ditakdirkan demikian.

“Rekonsiliasi kata mereka sekarang Sinta. Kau tahu apa maknanya bagi mereka? Lupakan dan maafkan. Siapa yang melupakan dan maafkan? Kita tentunya. Memaafkan segala kelakuan binatang mereka, memaafkan segala kebengisan mereka, dan melupakan orang-orang sepertimu Sinta. Mereka memaksaku untuk melupakanmu Sinta! Menghilangkanmu sekali dari dunia ini seakan tak cukup bagi mereka. Kau harus hilang tidak hanya dari pandanganku, bahkan dari relung pikirku sekalipun. Dan apa dalih yang mereka gunakan untuk itu? Untuk perdamaian, persatuan, kemajuan. Memuakkan bukan? Harga dirimu, dan juga ratusan bahkan ribuan orang sepertimu dicampakkan untuk tujuan yang benar-benar abstrak!”

Amarahnya memuncak. Ingin ia berteriak sekeras-kerasnya, untuk dirinya sendiri, untuk Sinta, untuk mereka yang tak mendengarkannya, untuk tempat ini yang menjadi saksi perjuangannya, untuk mendung abadi di wajahnya, untuk semua yang telah mengutuknya dan meratapinya.

Dalam hatinya ia sadar, apapun yang telah ia lakukan tak akan membawa Sinta kembali. Bahwa semua terkadang sia-sia, dan ia berjuang untuk nilai yang sama sekali tak berharga. Sinta tidak ada lagi dimanapun kecuali dalam pikirannya. Keberadaannya nihil, hilang tak berbekas dari muka bumi. Tidak ada goresan, sapuan, maupun coretan yang menandakan ia pernah ada berlarian diantara gubuk kumuh di pinggir kali, diantara gang-gang sempit nan jorok, diantara lapang ilalang tak terurus, tak ada. Hampir ia menjadi gila, atau jangan-jangan sudah sedari dulu tanpa ia sadari.

Ia sendiri perlu jujur terhadap dirinya, ia ingin ini selesai. Tidak ada yang lebih baik baginya selain mengingat Sinta dalam ketenangan yang selama ini terrenggut dari dirinya. Ia hanya ingin mereka yang tak mendengarkannya untuk mendengar, mereka yang tak mengertinya untuk mengerti, dan mereka yang tak peduli untuk peduli. Permintaan maaf, pengadilan, komisi kebenaran, reparasi, ataupun apapun bisa jadi adalah hal tak perlu baginya. Waktu tidak mengobati semuanya, bahkan waktu seakan-akan memperlebar luka yang sudah ada. Mendung di wajahnya, ditakdirkan untuk abadi.

Gonggongan anjing menyertai langkahnya pulang diantara keremangan lampu malam jalanan. Langkahnya goyah, pandangannya kabur. Berkali-kali ia terjatuh terantuk lubang di jalan yang tak lagi rata. Bertahun-tahun hidup dalam kegundahan telah membentuknya demikian. Dengan susah payah ia berpegangan diantara dinding-dinding gang sempit nan jorok, merangkak melewati lapang ilalang tak terurus, hingga menyeret tubuhnya melalui gubuk kumuh pinggir kali. Ia lunglai, nafasnya sesak, ia sekarat.

Esok pagi tubuhnya yang kaku ditemukan oleh para pemulung. Penampilannya masih sama dengan kemarin, acak-acakan dari ujung kepala hingga ujung kaki tak beda dengan mereka yang menemukan tubuhnya. Raut mendungnya masih terpatri dengan jelas dan beku di wajahnya. Lelaki ini telah mati, turut mati pula menyertainya cerita mengenai Sinta, kegundahannya, dan ketidakadilan yang ia alami selama ini. Ia tetap tak didengar, tak dimengerti, tak dipedulikan. Sinta tetap hilang, tak berwujud dan tak berbekas. Mendung tak memiliki kesempatan barang sekalipun untuk lenyap dari wajahnya.